Remas Kok di Sirnas B Kepulauan Riau Tuai Reaksi Keras, Taufik Hidayat Desak BWF dan PBSI Bertindak
Pesankata.com, Jakarta – Turnamen bulu tangkis Sirnas B di Kepulauan Riau-Batam menyisakan kontroversi setelah rekaman seorang pemain dari PB Exist yang meremas kok sebelum servis menjadi viral di media sosial. Aksi tersebut memantik diskusi luas di kalangan pencinta olahraga tepok bulu, termasuk mendapat respons serius dari Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga, Taufik Hidayat.
Dalam pertandingan tersebut, kamera menangkap momen di mana atlet muda dari PB Exist mengenakan seragam kuning tampak memanipulasi kok dengan meremasnya, yang diyakini dapat memengaruhi arah dan kecepatan kok saat dimainkan. Tindakan ini dinilai tidak adil dan bertentangan dengan semangat sportivitas yang seharusnya ditanamkan sejak dini dalam dunia olahraga.
Mantan peraih medali emas Olimpiade 2004 itu menyayangkan kejadian tersebut dan meminta agar ada regulasi yang jelas dari badan bulu tangkis internasional. Menurutnya, permasalahan ini harus direspons serius oleh BWF dan ditindaklanjuti ke federasi nasional seperti PBSI agar insiden serupa tidak terulang.
“Aturannya harus jelas dan berasal dari badan internasional, dalam hal ini BWF. Nanti akan diteruskan ke tiap negara agar semua federasi punya pedoman yang sama,” kata Taufik kepada awak media.
Taufik juga menilai aksi remas kok sebagai tindakan yang tidak sportif dan mencederai integritas kompetisi, terlebih karena pelakunya masih berada di kategori usia dini. Ia berharap ada penekanan terhadap pembentukan karakter atlet muda, tidak hanya pada teknik dan prestasi.
Pernyataan senada juga diungkapkan oleh Ketua MPBI, Kurniadi, yang menyebut bahwa remas kok merupakan praktik lama yang tak pernah mendapat sanksi karena tidak adanya aturan eksplisit. Ia menilai bahwa PBSI harus segera merumuskan ketentuan sanksi yang tegas agar para pemain dan ofisial mengetahui batasan etika yang wajib dijaga di lapangan.
“Kalau tidak ada protes dari lawan atau bukti visual, maka pelanggaran seperti ini bisa terus terjadi. Ini menyulitkan wasit yang tidak memiliki dasar untuk menindak,” ujar Kurniadi.
Ia mengusulkan agar PBSI membuat peraturan tambahan tentang larangan meremas atau memodifikasi kok sebelum servis, dan memastikan bahwa pelanggaran ini bisa ditindak baik berdasarkan laporan pemain lawan maupun pengawasan dari pihak luar.
Menanggapi kontroversi tersebut, pihak PB Exist telah menyampaikan klarifikasi dan berjanji akan memberikan pembinaan kepada pemain yang bersangkutan. Langkah ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab dan komitmen klub dalam mendukung nilai-nilai sportivitas dalam olahraga.
Kasus ini menjadi refleksi penting bagi pembinaan atlet muda di Indonesia, bahwa prestasi seharusnya dibarengi dengan kejujuran dan semangat bermain bersih demi masa depan olahraga yang lebih sehat dan bermartabat.




