Pesankata.com, Jakarta – Di antara banyak nama yang dikenal dalam dunia gelap penagihan utang di Indonesia, sosok John Kei mencuat sebagai figur sentral. Lahir dengan nama lengkap John Refra pada 10 September 1969 di Maluku Tenggara, pria ini menjelma menjadi pemimpin kelompok kuat yang dikenal luas di berbagai wilayah Indonesia.
Perjalanan John Kei menuju reputasi “raja debt collector” dimulai ketika ia pindah ke Jakarta pada tahun 1991. Di sana, ia membentuk kelompok Angkatan Muda Kei (AMKEI) yang kemudian berkembang menjadi jaringan jasa penagihan utang paling ditakuti. Kelompok ini terlibat dalam berbagai konflik dengan rival seperti kelompok Basri Sangaji, Thalib Makarim, dan Hercules.
Persaingan dengan Basri Sangaji berakhir tragis pada 2004 saat Basri tewas dalam bentrokan. John Kei sempat diperiksa namun tidak dijerat hukum karena kurangnya bukti, sementara delapan anak buahnya ditetapkan sebagai tersangka. Sejak peristiwa itu, dominasi AMKEI semakin mencengkeram ranah penagihan utang di ibu kota dan sekitarnya.
Nama John Kei juga tercatat dalam sejumlah kasus kriminal lain. Pada tahun 2008, ia kembali ditangkap karena dugaan penyiksaan terhadap dua saudaranya, termasuk pemotongan jari, dan dijatuhi hukuman delapan bulan. Pada 2012, ia kembali ditangkap atas keterlibatannya dalam kasus pembunuhan pengusaha Tan Harry Tantono. Vonisnya semula 12 tahun ditingkatkan menjadi 16 tahun penjara dan ia harus menjalani hukuman di Lapas Nusakambangan, penjara dengan tingkat keamanan tinggi.
Setelah bebas bersyarat pada akhir 2019, John Kei kembali ditangkap pada pertengahan 2020 karena penyerangan terhadap Nus Kei, kerabatnya sendiri. Konflik tersebut disebut dipicu oleh persoalan pembagian uang dan kepemilikan lahan. Penangkapan ini juga melibatkan puluhan anggotanya.
Selain itu, perseteruan John Kei dengan Hercules menjadi salah satu catatan besar lainnya. Pada 2012, bentrokan terjadi antara kedua kelompok terkait sengketa lahan milik PT Sabar Ganda di Cengkareng. Meski sempat disepakati penyelesaian hukum dengan status quo, bentrokan kembali terjadi hingga aparat keamanan harus turun tangan langsung, bahkan menyita senjata tajam dari lokasi bentrokan.
Dengan rekam jejak penuh kekerasan dan konflik, John Kei menjadi figur simbolik dari wajah lain dunia kriminal perkotaan. Ia dikenal bukan hanya karena keberaniannya, tetapi juga karena kemampuan membangun jaringan dan mempertahankan eksistensinya di balik serangkaian kasus hukum yang menjeratnya.






