Ojo Dibandingke, Ojo Dientekno Pisan, Kini Uang Farel Prayoga Sisa Rp50 Ribu
Pesankata.com, Jakarta – Penyanyi cilik yang sempat viral lewat lagu “Ojo Dibandingke”, Farel Prayoga (14), kini harus menghadapi kenyataan pahit. Melalui unggahan di YouTube “Curhat Bang Denny Sumargo” Jumat (18/7/2025), Farel mengungkap bahwa uang miliaran rupiah dari manggung yang dipercayakan kepada orangtuanya kini tinggal sisa Rp56 ribu—bahkan sempat turun ke kisaran Rp10 ribu di rekening pribadinya.
Farel menjelaskan bahwa sejak awal viral, seluruh honor diserahkan kepada orangtua. Namun, tanpa sepengetahuannya, sebagian besar digunakan untuk keperluan keluarga—termasuk membeli tanah dan kuda untuk kakaknya. Farel menyebut motivasi orangtuanya adalah investasi masa depan, tapi tak memberi ruang diskusi padanya.
“Baru‑baru ini, saldo tinggal ceban paling, di bawah Rp50 ribu,” kata Farel lirih. Dia terkejut saat hendak menarik uang untuk beli minuman di supermarket, tetapi saldo ATM hanya menunjukkan Rp56 ribu. Padahal, ia yakin sebelumnya ada ratusan juta rupiah di rekeningnya.
Kondisi memaksa Farel kini bergantung pada manajernya untuk biaya sekolah dan kebutuhan sehari-hari. Ia tinggal dan sekolah di Jakarta, sementara orangtuanya tetap mengelola keuangan dan kebutuhan keluarga di Banyuwangi.
Selain soal finansial, Farel juga menyampaikan kisah pahit tentang kehidupan keluarga, termasuk perlakuan kasar dari ibu tirinya yang membuatnya merasa tak nyaman sejak kecil. Meski menyimpan luka, ia memilih bersuara agar pengalaman nyata ini menjadi pelajaran bagi publik.
Fenomena seperti Farel Prayoga memunculkan kepedulian dan empati luas dari masyarakat. Tagar #SaveFarel sempat trending di X, dengan puluhan ribu dukungan agar kasusnya dijadikan momentum untuk memperkuat perlindungan hukum bagi artis anak serta transparansi pengelolaan honor oleh pihak keluarga atau manajemen.
Ahli hukum anak dari Universitas Indonesia, Dr. Siti Ramadhani, menilai pengeluaran besar tanpa persetujuan anak di bawah umur bisa dikategorikan sebagai “pemanfaatan finansial tanpa izin”. Ia mendorong adanya regulasi pengelolaan honor artis anak agar pihak ketiga—terutama orangtua—tidak sembarangan menggunakan uang tanpa persetujuan.
Manajer Farel menyatakan akan mengumpulkan bukti transaksi dan dokumen untuk melaporkan dugaan penyalahgunaan dana oleh pihak keluarga. Ia berharap kasus ini memberi efek jera dan mengedukasi orangtua agar lebih berhati-hati dalam mengelola penghasilan anak.
Kini, publik menanti apakah Farel dan manajemennya akan menempuh jalur hukum—sangat mungkin berupa gugatan perdata atau permohonan bantuan perlindungan hukum untuk artis anak. Sorotan kasus ini bisa jadi momentum memperketat regulasi perlindungan ekonomi dan psikologis anak di dunia hiburan.
Kasus Farel Prayoga membuka mata: viral dan popularitas bisa membawa dampak finansial yang tidak semata berujung kemewahan. Bila tidak dikelola dengan bijak, kerentanan artis muda bisa dieksploitasi bahkan oleh orang terdekat. Public akan terus mengawal perkembangan berikutnya—apakah Farel bisa pulih dan mendapatkan keadilan yang ia butuhkan.




