Tompi Hingga Ari Lasso Cabut dari WAMI Perihal Royalti Tidak Jelas
Pesankata.com, Jakarta – Industri musik Indonesia tengah diliputi ketegangan. Beberapa musisi ternama memilih meninggalkan Wahana Musik Indonesia (WAMI). Mereka menyampaikan kekecewaan terhadap kurangnya transparansi dalam sistem royalti.
Penyanyi Tompi resmi keluar dari WAMI. Ia mengaku frustrasi karena penjelasan mengenai perhitungan dan pembagian royalti dari konser tidak pernah memuaskan. Bahkan diskusi selama ini, termasuk bersama mendiang Glenn Fredly, tidak menghasilkan kejelasan.
Tompi menilai jawaban dari pihak WAMI “tidak masuk akal sehat”. Merasa situasi semakin membingungkan, Tompi meminta manajernya mengurus kepergiannya dari organisasi itu per Senin, 11 Agustus 2025.
Sebagai bentuk protes lebih lanjut, Tompi membebaskan siapa saja yang ingin membawakan lagunya—di kafe, konser, atau panggung lainnya—tanpa harus membayar royalti. Pernyataan ini berlaku hingga ada kejelasan lebih lanjut.
Kabar serupa datang dari Ari Lasso. Ia mengaku hanya menerima sekitar Rp 700 ribu, padahal seharusnya ia memperoleh puluhan juta dari royalti lagunya. Ari Lasso menuntut laporan transparan dari WAMI agar hak musisi terjaga.
Kasus ini mencuat setelah WAMI umumkan bahwa mereka mendistribusikan royalti sebesar Rp 47 miliar. Namun angka besar tersebut tidak meredam kritik dari para musisi. Justru, muncul tudingan tentang penghitungan yang tidak jelas
Langkah Tompi dan kekecewaan Ari Lasso menyulut perdebatan publik. Termasuk pertanyaan mengenai efektivitas Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) dalam melindungi hak musik. Banyak pihak meminta evaluasi mendalam dan reformasi mekanisme royalti.
Situasi ini menjadi perhatian serius. Jika tak ada langkah transparan dari WAMI, lebih banyak artis diprediksi bakal mempertimbangkan opsi mandiri. Hal ini berpotensi mengubah lanskap pengelolaan hak cipta musik nasional.





