Setelah RAM, Permintaan AI Picu Krisis Baru di Pasar Storage Dunia
Pesankata.com, Jakarta – Lonjakan kebutuhan dari industri kecerdasan buatan (AI) mulai mengguncang ekosistem perangkat keras global. Setelah krisis GPU dan memori, kini pasar penyimpanan data menjadi korban berikutnya. Laporan DigiTimes menunjukkan waktu tunggu pengiriman hard disk enterprise (HDD) melonjak hingga lebih dari dua tahun, didorong oleh peningkatan konsumsi dari perusahaan AI berskala besar.
Kekurangan ini membuat sejumlah perusahaan teknologi global beralih ke solid-state drive (SSD), terutama varian QLC NAND yang lebih murah dan memiliki kapasitas besar. Pergeseran tersebut dipicu oleh kebutuhan untuk mempercepat pengadaan infrastruktur penyimpanan di pusat data. Namun, di sisi lain, transisi ke QLC juga menciptakan efek domino pada pasar konsumen karena stok menipis akibat permintaan besar dari sektor korporasi.
Menurut analis Techspot, Rabu (12/11/2025), sebagian besar pusat data di Amerika Serikat, Kanada, dan China kini menyerap hampir seluruh produksi QLC NAND untuk mendukung pelatihan model AI. Akibatnya, pasokan SSD untuk pengguna umum diperkirakan akan menurun signifikan dalam beberapa bulan ke depan. Kondisi ini berpotensi menaikkan harga SSD di pasar global, terutama pada produk kelas menengah.
Para pengamat memperkirakan penjualan QLC NAND akan melampaui TLC pada awal 2027. Pergeseran ini menandai perubahan besar dalam industri penyimpanan digital yang kini semakin diarahkan untuk memenuhi kebutuhan komputasi AI berskala tinggi. Sejumlah perusahaan bahkan dikabarkan mulai menimbun stok QLC sejak sekarang, membuat lini produksi beberapa produsen besar penuh hingga tahun 2026.
Tekanan tidak hanya terjadi di sektor penyimpanan. Harga komponen utama lain seperti DRAM juga ikut melonjak. Dalam beberapa pekan terakhir, harga memori dilaporkan naik hingga 50 persen, sementara pusat data AI di AS dan China hanya menerima sekitar 70 persen dari total pesanan mereka. Produsen seperti Samsung dan SK Hynix diketahui mulai mengalihkan kapasitas produksi dari pasar konsumen ke komponen berorientasi AI yang menawarkan margin lebih tinggi.
Analis memperingatkan kondisi ini bisa memperlambat produksi perangkat elektronik global, termasuk laptop, PC, dan server baru. Di sisi lain, peningkatan kebutuhan komputasi dari pelatihan model AI seperti GPT dan Gemini mendorong lonjakan investasi pada infrastruktur data center kelas hyperscale.
Fenomena ini menegaskan satu hal: kompetisi global menuju Artificial General Intelligence (AGI) menciptakan tekanan luar biasa pada rantai pasokan perangkat keras. Jika tren ini berlanjut, pengguna rumahan hingga perusahaan kecil kemungkinan akan menghadapi kenaikan harga signifikan pada berbagai komponen komputer mulai 2026.




