Pesankata.com, Jakarta – Kemunculan sosok yang dikenal sebagai Sister Hong Lombok akhirnya menjawab teka teki yang ramai di media sosial. Ia adalah Deni Apriadi Rahmah, 23 tahun, warga Desa Mujur, Praya Timur, Lombok Tengah. Deni muncul dalam sesi klarifikasi di sebuah cafe di Kota Mataram pada Minggu 16 November. Ia mengaku sebagai laki laki yang gemar memakai jilbab dan selama ini bekerja sebagai make up artist.

Dalam penjelasannya, Deni menegaskan bahwa hidupnya tidak mudah. Ia menyebut diri sebagai penyintas disabilitas pendengaran. Kondisi itu ia alami sejak kecil dan memburuk setelah kecelakaan ketika usianya sekitar sepuluh tahun. Ia belajar make up secara mandiri melalui video di internet. Aktivitas sebagai MUA menjadi sumber penghasilan utamanya di Lombok.

Isu tentang Deni awalnya muncul akibat unggahan viral yang memperlihatkan foto dirinya dengan berbagai narasi negatif. Ia dituduh memakai mukena lalu masuk ke saf perempuan di masjid. Deni membantah semua tuduhan tersebut. Ia menyebut tidak pernah melakukan ibadah di saf perempuan. Ia menilai narasi yang beredar telah merugikan dirinya dan keluarganya.

Ia menjelaskan kebiasaannya memakai jilbab hanya sebagai bentuk ekspresi. Ia mengaku mengagumi perempuan berhijab dan merasa lebih aman ketika mengenakan penutup kepala. Ia menolak anggapan bahwa jilbab ia gunakan untuk menipu atau melecehkan pihak lain. Penjelasan itu ia sampaikan untuk meredam spekulasi yang berkembang di media sosial.

Reaksi publik sempat membuat kondisi mentalnya terguncang. Ia menceritakan menerima ribuan komentar negatif di berbagai platform. Pesan berisi cercaan, ancaman dan fitnah membuatnya stres dan kehilangan kendali. Ia menyebut beberapa hari terakhir sebagai masa paling berat dalam hidupnya.

Unggahan viral yang menampilkan foto dirinya, termasuk tuduhan penista agama dan sebutan kaum sodom, menyebar luas di Facebook, Instagram dan TikTok. Ia menilai tuduhan itu sangat merugikan. Ia mengatakan nama baik dirinya, keluarga, dan rekan yang mendukungnya ikut terdampak.

Klarifikasi ini dimaksudkan untuk menegaskan identitas dan aktivitasnya sebagai MUA. Ia berharap penjelasannya dapat menghentikan persebaran informasi yang tidak akurat. Ia juga meminta masyarakat lebih bijak dalam menyikapi unggahan yang belum terverifikasi. Ia mengaku siap melanjutkan aktivitasnya dan fokus memperbaiki keadaan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan