Pesankata.com, Jakarta – Fenomena toxic positivity kembali menjadi sorotan setelah sejumlah pakar kesehatan mental menilai tren ini semakin sering muncul di media sosial. Kondisi ini dianggap berbahaya karena membuat seseorang menekan kenyataan emosinya. Tekanan untuk selalu terlihat bahagia dinilai dapat memicu stres hingga kecemasan. Terapis keluarga Whitney Goodman menjelaskan bahwa pola ini menciptakan tuntutan berlebihan untuk terus merasa positif, apa pun situasinya.
Asosiasi Kecemasan dan Depresi Amerika menyebut bahwa sikap positif berubah menjadi toxic ketika digunakan untuk menggantikan emosi negatif. Pola ini berbeda dari optimisme sehat yang tetap mengakui bahwa situasi bisa sulit. Pakar menilai bahwa toxic positivity sering hadir dalam bentuk kalimat sederhana seperti “lihat sisi baiknya” atau “semua akan baik”. Walau terdengar sopan, kalimat tersebut membuat orang merasa tidak boleh bersedih.
Dalam banyak kasus, toxic positivity menyebabkan seseorang merasa tidak didengarkan. Profesor Mary Jo Kreitzer dari University of Minnesota menjelaskan bahwa dorongan positif yang berlebihan sering kali meminimalkan realitas emosional seseorang. Ketika individu mengalami kesedihan atau kehilangan, respons dangkal dapat membuat mereka merasa tidak dihargai. Banyak laporan klinis menunjukkan bahwa pola ini menambah rasa isolasi.
Psikolog berlisensi Michele Leno menambahkan bahwa toxic positivity dapat muncul dari diri sendiri. Ketidakmampuan menerima emosi sulit memicu kebiasaan menyangkal perasaan. Pola ini terlihat pada individu yang merasa tidak pantas untuk sedih atau marah. Mereka memaksa diri untuk tetap kuat meski sebenarnya membutuhkan ruang untuk berproses. Penyangkalan berulang berpotensi menimbulkan kelelahan emosional.
Pengabaian terhadap pengalaman negatif orang lain menjadi tanda lain yang perlu diperhatikan. Banyak orang memilih menghindari cerita berat dan hanya mau mendengar hal positif. Kalimat seperti “kamu terlalu sensitif” dinilai sebagai bentuk penolakan emosional. Pakar menyebut respons semacam ini dapat membuat seseorang merasa bersalah atas perasaan yang sah. Pola ini umum terjadi di lingkungan keluarga dan pertemanan.
Ketidaksesuaian konteks emosional juga menjadi indikator. Optimisme tidak dapat diterapkan pada semua situasi. Dalam kondisi seperti kehilangan pekerjaan, trauma, atau duka mendalam, yang dibutuhkan adalah empati. Penelitian menunjukkan bahwa kesediaan mendengarkan dengan penuh perhatian membantu proses pemulihan lebih cepat. Penguatan positif tanpa konteks justru dapat memperburuk kondisi.
Pakar kesehatan mental mengingatkan bahwa emosi negatif tidak seharusnya dianggap salah. Kesedihan dan kekecewaan merupakan bagian alami dari pengalaman manusia. Mengakui perasaan membantu seseorang memahami batas dirinya. Langkah ini juga mendukung proses penyembuhan yang lebih sehat. Pendekatan ini dianggap lebih realistis dibanding memaksakan diri untuk selalu terlihat bahagia.
Memahami tanda toxic positivity dinilai penting agar masyarakat lebih bijak dalam memberikan dukungan. Para ahli menekankan pentingnya ruang aman bagi semua jenis perasaan. Positif boleh, tetapi harus disertai penerimaan terhadap kenyataan emosional. Pendekatan ini membantu seseorang bertumbuh tanpa menekan bagian dirinya yang membutuhkan perhatian.






